Monday, December 16, 2019

JARAK TAK LAGI BERMAKNA BERKAT AIR ASIA


PROLOG
Istri: “Adek mau samaan sama kakak”.
Saya: “ Sabar ya dek, kumpulin uang dulu baru nanti saya jemput”.
Ini sepenggal percakapan yang terjadi antara saya dan istri di awal tahun 2019. Saat itu kami terpisah dengan jarak, gempa yang mengguncang Lombok pada medio 2018 mengharuskan saya mengungsikan  mereka ke rumah mertua di Jakarta. Rencana untuk menjemputnya terpaksa saya urungkan akibat lonjakan harga tiket pesawat yang diluar batas kewajaran.
Ya, informasi tentang kenaikan harga tiket yang saya duga hoax ternyata benar adanya. Melalui aplikasi penyedia jasa transportasi, saya mengklarifikasi kebenaran tersebut dengan cara mengecek harga tiket, dan hasil pengecekan akhirnya membuat kepala saya pusing melebihi tujuh keliling. 
Upaya untuk melepas rindu yang membuncah seakan mau pecah pun urung saya lalukan karena kurangnya biaya. Dengan sangat terpaksa saya harus kembali menahan rindu yang menusuk kalbu.
Awal bulan Mei akhirnya biaya terkumpul, itupun hanya cukup untuk memulangkan istri dan anak tanpa saya harus menjemputnya di Jakarta. Tak apalah fikir saya kala itu, yang terpenting adalah kami bisa kembali bersatu.

Akhir Agustus 2019
Saya: “Fadhlil sakit (diare) bude, tolong kasih tahu mbahnya, mohon do'a biar sembuh”
Kakak Ipar: “Iya nanti disampaikan, udah dibawa ke RS belum?”
Saya: “Untuk sementara ini belum, masih diupayakan pakai obat tradisional”

Hari berlalu, sakit yang diderita anak tak kunjung sembuh, payah semakin terlihat dari binar mata yang meredup. Mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan sangat terpaksa kami membawanya ke sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Hasil diagnosa menyatakan bahwa anak kami harus opname. Mendengar kabar ini, Mbah Kung (kakek) memutuskan untuk berkunjung, menemani kami yang resah hati.
Dua hari lamanya buah hati tercinta merasakan penderitaan, jarum infus tertancap di kaki, lalu berpindah ke lengan. Memasuki hari ke-3 dokter mengizinkan untuk pulang. 
Kembali ke rumah bukan berarti penyakit telah hilang, diare masih ada walau tak lagi sesering biasa. Akibatnya berat badan sang anak menurun drastis, agar kesehatan dan berat badan anak lekas pulih kembali, diputuskan untuk membawanya ke Ibu kota.

Murah Tapi Bukan Murahan
“Pakai AirAsia aja, biasanya lebih murah”

Usul ini dikemukakan seorang teman yang terbiasa melakukan perjalanan menggunakan tranportasi udara. Dibukanya rute baru Lombok-Jakarta pada Juni 2019 membuat penerbangan kembali murah menjadi sesuatu yang niscaya adanya, dan melalui teman inilah akhirnya pemesanan dan pembelian tiket dilakukan.

Sempat timbul kekhawatiran dalam diri, menyangsikan kenapa bisa semurah ini. Saat maskapai lain menaikkan harga, AirAsia tetap dikisaran harga yang lama bahkan terkadang bisa lebih murah. Hati bertanya dan menduga-duga, seperti apakah pelayanan yang diberikan oleh maskapai ternama di dunia yang selama 11 tahun berturut-turut memenangkan penghargaan sebagai World's Best Low-Cost Airline dari Skytrax ini. 
Setiba istri di Jakarta, saya langsung mencecarnya  dengan beragam pertanyaan. Testimoni yang diberikan oleh istri terkait pelayanan AirAsia yang paripurna belum bisa membuat saya percaya sebelum mencobanya sendiri. 
Kamis, 3 Oktober 2019. Setelah sebelumnya mengajukan cuti kerja, saya berangkat menuju Jakarta untuk menemui orang tua, anak, dan istri tercinta. Selain itu tentu saja untuk membuktikan apa yang telah dinyatakan oleh istri terkait pelayanan maskapai AirAsia yang mumpuni.




Ternyata apa yang dikatakan oleh istri sepenuhnya benar,  kenyamanan saya rasakan selama dalam penerbangan. Ah, rasanya sungguh Bahagia Bersama AirAsia. Maskapai ini pun membuktikan bahwa murah itu belum tentu murahan.

Selasa 08 Oktober merupakan hari yang menyedihkan, pasalnya saya harus kembali ke tempat kerja,  sedangkan anak dan istri karena satu dan lain hal harus tetap berada di Ibukota. Sekali lagi, jarak pun memisahkan kami.

Pertemuan Kembali
Ade (Teman SMP): ”Bro, ente datengkan reuni perak SMP kita?”
Saya: “Kayaknya gak bisa bro, lagi banyak pengeluaran”
Ade:  “Udahlah dateng aja, tiket berangkat ane yang nanggung”
Saya: “Serius ini Bro? Kalau beneran pesennya  AirAsia aja bro, lebih murah dari maskapai lain”
Ade: “Ok bro, aman pokoknya”

Petikan di atas merupakan bagian dari rangkaian obrolan antara saya dan teman rasa saudara, satu meja di kelas 2 (dua) Sekolah Menengah Pertama.  Alhamdulillah keberuntungan menghampiri saya. Berbekal tiket berangkat yang diberikan teman SMP ini akhirnya saya  dapat berjumpa dengan anak dan istri. Tentu saja yang utama adalah bisa menengok orang tua, serta berjumpa rekan sebaya yang terpisah 25 tahun lamanya.  


Kenyamanan Terbang Bersama AirAsia
Saya salah strategi, berfikir bahwa harga tiket AirAsia akan tetap stabil, saya lalai untuk membeli tiket terlebih dahulu. Dua hari menjelang kepulangan saya mencoba mengecek, dan ternyata harga sudah melambung tinggi.
Karena budget yang terbatas, sempat terfikir untuk memesan tiket di maskapai berbeda yang saat itu harganya lebih murah. Namun hal itu urung saya lakukan setelah berdiskusi panjang dengan istri tercinta.
Kesimpulan kami, biarlah mahal yang penting kenyamanan di dapat. Point penting dari diskusi tersebut adalah bahwa pelayanan  AirAsia yang paripurna telah berhasil mencuri hati kami.

Mudahnya proses check in baik online maupun offline, senyum ramah pramugari/pramugara selama penerbangan , dan pelayanan ketika tiba di lokasi tujuan (ini tercermin ketika saya ketinggalan oleh-oleh di Kabin dan kru AirAsia yang berada di bandara bersedia untuk mengambilkan). Ah, pokoknya semua terasa istimewa.


Proses Pemesanan Tiket
Akhirnya setelah sekian lama dibantu oleh teman dalam hal pemesanan, saya mencoba memesan langsung melalui aplikasi AirAsia, ternyata prosesnya tak serumit yang saya sangka. Mengingat jadwal keberangkatan yang saya ambil adalah pagi hari, maka untuk menghindari hal tak terduga (kemacetan Ibukota), saya memilih untuk berangkat menuju bandara sepagi mungkin hal yang menyebabkan saya tidak sempat untuk sarapan. 


Terkait dengan itulah, ketika melakukan pemesanan tiket, saya menambahkan produk santan dan memilih menu nasi padang dengan harga sekitar Rp. 37.000,- sebagai asupan pagi.
Tidak tahu bagaimana rasa menu  lainnya yang sangat bervariasi, pesanan saya pribadi mampu memuaskan hati. Semua unsur dalam makanan masih terasa segar, membuat  saya berasa seperti berada di rumah makan padang itu sendiri, gak percaya? Silahkan mencobanya.

EPILOG
Pernah dengar lagu Fierza Besari dengan judul Celengan Rindu. Pada salah satu liriknya yang bersangkutan menyampaikan “aku kesal dengan jarak yang telah memisahkan kita”. Saya berfikir, mungkin saja beliau menciptakan lagu ini dalam keadaan harga tiket masih mahal, dunia penerbangan belum punya AirAsia sebagai solusi. Karena ini pun terjadi kepada saya waktu itu, kesal tiada menentu ketika harga tiket melambung jauh.
Entah bagaimana dengan Fierza, yang jelas bagi saya hadirnya AirAsia mampu menjadi solusi bagi mereka yang terpisahkan dengan jarak.
Terima kasih AirAsia berkatmu jarak tak lagi bermakna.
Reuni Perak SMP 213


Bersama Uminda, Istri, dan anak tercinta

Tunggulah aku istri dan buah hati
Insyaa Allaah ku akan segera kembali  
tuk pecahkan celengan rindu ini




Sunday, December 15, 2019

BUKIT TUNAK DAN KENANGAN YANG BERANAK PINAK


PEMBUKA
Endemik kupu-kupu di wilayah yang nota bene panas dan kering? How could it be possible? 
Sependek pengetahuan saya, ekosistem serangga satu ini banyak ditemukan pada tempat yang dingin dan lembab. Namun ternyata hal ini tidak selamanya berlaku, atau bisa jadi ini adalah sebuah pengecualian.
Ya, ada sebuah tempat yang panas (sekitar pantai) di Pulau Lombok yang merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya bermacam species kupu-kupu, Taman Wisata Alam Bukit Tunak namanya.
Berdasarkan hasil penelitian Muhammad Agisni Syukur dalam jurnal kupu-kupu, pada 4 jalur pengamatan di Taman Wisata Alam Gunung Tunak diketahui terdapat 66 spesies kupu-kupu yang terdiri dari 5 famili dan 441 individu. Bagaimana, amazing gak tuh? Berbekal keunikan inilah Balai Konservasi Sumber Daya Alam membuat sebuah tempat pembelajaran terkait di TWA Bukit Tunak.
Dok by: Tagar.id

Terus tulisan ini mau ngebahas kupu-kupu  gitu?
Ya enggaklah.
Saat ini, serangga bersayap indah hanya akan menjadi sebuah pemanis di awal/pembuka tulisan dan tambahan pengetahuan untuk kalian agar semakin penasaran untuk melakukan kunjungan. Karena bahasan kali ini adalah tentang betapa indahnya tempat yang berada di wilayah selatan Lombok Tengah ini.
Penasaran gak lokasinya seperti apa? Pantengin terus ya!

KUNJUNGAN PERTAMA
“Gak usah ke sana, daerah itu masih rawan”
Kalimat ini diucapkan oleh seorang teman pada kisaran tahun 2016, hal tersebut dilakukan untuk menahan keingintahuan dan rasa penasaran saya yang sangat ingin mengunjungi lokasi (TWA Bukit Tunak) setelah melihat beberapa postingan foto lokasi  di sosial media.
Tanpa mengindahkan himbauan, saya bertekad untuk tetap berkunjung ke lokasi, dengan fikiran positive bahwa andai memang rawan kenapa juga bisa ada yang posting. Tekad sudah matang, rencana tersusun, tinggal menunggu teman jalan, karena biar bagaimanapun saya harus tetap waspada.
Saya mencoba mengajak teman-teman yang biasa begelamang (kelayapan), namun semua menolak. Apakah saya menyerah? Tentu saja tidak, saya tetap menanti dengan harapan akan ada yang meng-iyakan ajakan saya, dan akhirnya penantian saya terbayar ketika seorang teman yang berkuliah di Pulau Sumbawa ingin mudik ke rumah orang tuanya di Pulau Jawa, dan saat itu ybs berencana transit (jalan-jalan) untuk menikmati keindahan Pulau Lombok.
Hari yang ditunggu tiba, saya berangkat menjemput teman tersebut di bandara, dan kemudian rencananya akan mengunjungi TWA Bukit Tunak serta beberapa objek wisata lainnya. Setiba di bandara saya mengecek jadwal kedatangan, ternyata saya terlambat, pesawat sudah landing. Harap-harap cemas karena tidak melihat batang hidung ybs, saya pun mencoba menghubungi. Pada percobaan ketiga ybs mengangkat telepon saya, dan meminta maaf karena disaat-saat terakhir memutuskan untuk melakukan konvoi menuju Lombok menggunakan sepeda motor bersama teman-temannya. Dengan kata lain rencana perjalanan yang telah saya susun matang terancam gatot. WTF!!!
Sudah kepalang basah, saya tidak mau menyerah, berbekal BISMILLAAH, saya mantapkan tekad untuk mengunjungi lokasi tersebut sendirian. Cemas dan khawatir coba saya singkirkan, dan alhamdulillah hal-hal buruk tidak terbukti, saya memasuki lokasi dengan aman, dan gratis karena mungkin penjaga tiket masuknya sedang lelah, he.
Pantai Bile Sayak TWA Bukit Tunak

Setiba di pantai utama, mata terbelalak menyaksikan kehendak  Allaah SWT yang menjadikan lokasi ini begitu indah dengan pasir putih menjurus ke kuning terbentang, batuan karst yang menjulang, dan tebaran pulau karang.
Cekrak cekrek sesuka hati sudah, terus kemana lagi (batin saya saat itu) ? Dari jauh terlihat tower di ujung bukit sana, mengingat beberapa postingan menarik yang beredar perihal tower tersebut. Saya pun memberanikan diri untuk menyambangi. Setelah melalui rute menanjak saya tiba dilokasi. Ternyata angin berhembus kencang, mengurungkan niat untuk melakukan pose di atas tower.
TWA Bukit Tunak

Cekrak cekrek pun kembali terjadi yang diakhiri dengan celingukan kanan kiri.
“Bisa kita ke sana Pak? “
Tanya saya kepada penduduk lokal yang sedang memancing  sambil menunjuk ke arah timur dimana terlihat beberapa teluk kecil yang menarik hati.
“Oh bisa, di pertigaan bukit tadi belok kanan”, jawab pemancing tersebut.
TWA Bukit Tunak

Berbekal jawaban itu saya kembali menelusuri jalan setapak berkarang, setelah melintasi 1 (satu) bukit sayapun tiba. Puja puji bagi Allaah Sang Maha Pencipta kembali terucap melihat keindahan lokasi (klik disini untuk melihat video IGnya) . Ingin rasanya berlama-lama, bila perlu mendirikan tenda. Namun sayang sekali waktu tidak memungkinkan, waktu ashar hampir pergi, gelap menghampiri, jadi dengan berberat hati saya terpaksa undur diri dengan niatan suatu saat harus kembali ke sini.

KUNJUNGAN KE-2
“BKSDA berulang tahun dan akan mengadakan kegiatan sosial di TWA Bukit Tunak, siapa yang ikut”
Ajakan melalui sebuah Grup Whatsapp ini langsung saya sambut dengan suka cita dengan mendaftarkan diri dan teman-teman yang berminat untuk ke sana.
Pada kunjungan kedua ini, keinginan bermalam di lokasi akhirnya tercapai. Walaupun hanya di pantai utama, namun itu mampu memuaskan dahaga hati. Pagi tiba, jika pada kunjungan pertama saya mengeksplorasi bukit di bagian kiri dari pantai utama, kali ini kami melakukannya pada bukit sebelah kanan. Kontur bukit masih sama, dengan jalan berupa karang dan varietas tumbuhan yang tak jauh berbeda, kami tiba di puncak bukit dan berhasil menikmati sunrise tepat pada waktunya.
Sunrise TWA Bukit Tunak

Kegiatan selanjutnya di hari tersebut adalah mengunjungi pantai yang berbeda. Terletak di sebelah kanan dari lokasi penangkaran rusa dan laboratorium kupu-kupu, pantai ini tidak kalah indahnya dengan pantai utama.
Peserta HUT BKSDA TWA Bukit Tunak

Peserta HUT BKSDA TWA Bukit Tunak

Pasir putih yang lembut dan di beberapa titik berbentuk merica, sinar matahari yang menyebabkan gradasi pada warna air laut. Ah, sungguh moment yang sulit untuk terlupa.

KUNJUNGAN KE-3
“Ini hadiah pernikahan kamu”
Seorang teman menyerahkan sebuah voucher menginap di sebuah cottage yang terletak di Pantai Bumbang sebagai hadiah bagi saya yang baru saja melangsungkan pernikahan. Lokasi penginapan yang tidak jauh dari TWA Bukit Tunak membuat saya kembali menjelajahi lokasi indah ini. Kali ini tentu saja terasa berbeda karena ada dia di samping saya, wanita yang akan membersamai hidup saya selama di dunia dan insyaa Allaah di Jannahnya kelak.
Aamiin yaa Robb.
Istri tercinta di TWA Bukit Tunak

Walaupun hanya mengunjungi pantai utama (pantai Bile Sayak), namun hati puas tiada tara, berhasil mengajak istri mengunjungi tempat indah ciptaan Allaah SWT.
Alhamdulillah wa Syukurillah.

KUNJUNGAN KE-4 ? 
Sari Goang namanya, berdasar beberapa foto yang beredar tempat ini sangat rekomended untuk dikunjungi.
Dok by: kampung media.com

Saya ada rencana untuk mengunjunginya, berminat? Mari kita tetapkan rencana untuk menuju ke sana.

HOW TO GO THERE (TWA Bukit Tunak) 
Jangan manjalah, masa yang begini harus saya jelaskan juga, tinggal googling aja toh.

PENUTUP
Suatu saat saya akan ke sini lagi.
Insyaa Allaah


NB: Silahkan klik link ini untuk mendapat info2 yang lain

Monday, August 12, 2019

Vivo S1, Kamera Fitnah Hasanah Membawa Berkah

Tiga puluh dua, ini yang sekilas saya baca ketika melihat spesifikasi gawai Vivo S1. Saat itu terlintas dalam benak: “katanya gawai keren, ini mah standar banget, hampir semua gawai di zaman now memiliki kapasitas penyimpan 32MB”. Ternyata oh ternyata, saya salah besar. Angka 32 tersebut bukanlah kapasitas penyimpanan, melainkan ukuran megapiksel dari kamera depan yang dimiliki gawai ini.
sumber foto: mobygeek.com

What, seriuskah?
Serius banget guys. gawai Vivo S1 ini memiliki kamera depan 32MP which is untuk saat ini Vivo S1 menjadi gawai yang memiliki kamera depan dengan resolusi tertinggi, hmmmmm. Selain resolusinya yang tinggi, kamera ini  juga didukung  beberapa mode terkini, seperti Artificial Intellegence (AI) Face Beauty, AI Selfie Lighting, AR Sticker, AI Filter dan fitur lainnya yang akan membuat tampilan foto yang dihasilkan menjadi semakin menarik, bisa dibilang hasil swafoto kita kecenderungan fitnahnya akan semakin besar, he. 

Eits, jangan salah faham dulu fitnah dimaksud adalah fitnah hasanah  atau dengan kata lain adalah fitnah kebaikan (adakah hal ini???), ini sebenarnya bisa-bisaan saya aja untuk memberikan statement, karena sejauh yang saya fahami dari pengalaman dengan gawai kaleng-kaleng, fitur semacam AI ini mampu membuat seseorang yang berswafoto menjadi semakin tampan dan cantik , yang tentu saja akan membuat yang menggunakannya menjadi senang/bahagia. Oleh karena membuat bahagia/senang itu baik, jadi saya namakan jenis fitur semacam ini dengan fitnah hasanah, dan bisa jadi akan ada keberkahan di balik pemakaian fitur ini, sebagai contoh, akan ada yang jatuh hati karena melihat tampilan foto ciamik kita di sosial media, eeeaaaa

Oke, back to the main topic.! Terus bagaimana dengan fitur yang lain.?
Kabar baik bagi gamers, selain memiliki ultra game mode yang akan memberikan pengalaman terbaik dalam bermain, fitur multi turbonya pasti bakal buat acara ngegame jadi lebih lancar tanpa nge-lag.
Bagaimana, belum tertarik juga sama Vivo S1? Kalau udah tertarik silahkan langsung beli (mumpung harga belum naik), ketika rilis tanggal 16 Juli 2019 gawai ini dibandrol dengan harga Rp.3.599.000,-.
sumber: tekno.kompas.com

BTW Pantaskah harga tersebut?
Beberapa kelebihan Vivo S1 yang tidak dimiliki gawai lainnya  akan membuktikan bahwa harga tersebut di atas tidaklah mahal. Apa aja sih  kelebihan-kelebihannya? Let's cekidot guys:

1. Adanya 3 (tiga) kamera di punggung dengan resolusi kamera utama sebesar 16 megapiksel dengan sensor keluaran Sony IMX 499, tentu saja kamera ini juga dipadankan dengan AI. Kamera ke-2 memilki lensa super wide angle dengan bidang pandang 120 derajat, dan memilki resolusi 8 megapiksel. Sedangkan dipaling bawah terdapat kamera 2 megapiksel yang berfunsi sebagai depth sensor. Untuk kalian yang hoby traveling tapi males ribet dengan penggunaan DSLR pun Mirrorless, so pasti gawai ini bisa menjadi solusi terbaik.

2.  Layar Super Amoled Ultra All Screen berukuran 6,38 inci dengan rasio layar 19,5:9 akan membuat kita dapat menikmati tampilan yang luas tanpa batas.

3.    Daleman yang didukung RAM 4GB, ROM 128GB dengan prosesor octa-core dengan desain 12nm dan kecepatan hingga 2,0GHz akan membuat kita dapat memainkan lebih banyak aplikasi dan games sekaligus dengan lancar.

4.   Jangan takut kehabisan baterai tiba-tiba, karea gawai ini disupport baterai berdaya 4500mAh dengan dukungan teknologi Dual-Engine Fast Charging. Hal yang akan membuat anda gak perlu repot-repot lagi membawa power bank.

5.  Teknologi Screen Touch Id dan teknik pelapisan nano-ion yang semakin membuat penampilan gawai ini sangat berkelas dengan dua pilihan warna, Cosmic Green dan Skyline Blue
 


So, Bagaimanakah endingnya? 
Masih yakin gak mau beli? Semua kelebihan dalam 1 (satu) gawai dengan harga segitu masa mau dibilang mahal, enggaklah. Coba cek toko sebelah, gawai merk berbeda dengan fitur kurang lebih sama dibandrol nyaris 10 jeti cuy, harga motor sebiji itu, he.
Oh iya, dengan memiliki gawai Vivo, kita bisa semakin memperluas pertemanan dan jaringan dengan cara bergabung dengan komunitas-komunitas yang sudah terbentuk, antara lain Vivo Club, komunitas smartphone android vivo, forum diskusi pengguna vivo, forum handphone android. Keren gak tuh! 
Belum yakin juga? silahkan aja pantengin forum dan sosial media berikut ini:
·         Instagram: @vivoclub_indonesia
·         Facebook fan page: Vivo Club Indonesia
·         Youtube channel : Vivo Club Indonesia
·         Forum: vivoclub.id
     
Jangan kebangetanlah, masa seabreg alasan masih ragu juga, come on. Menurut saya nih ya, lebih baik langsung aja gak pake ragu, jual gawai lamamu, pergi ke toko gawai terdekat untuk beli Vivo S1. Rasakan sensasi kamera fitnah hasanah yang akan kalian dapatkan.
ngarep punya