Monday, November 14, 2022

KolaborAKSI Untuk Negeri


Preambule

T: “Bagaimana cara bisa sembuh dari penggunaan narkoba?”

J: “Pengguna tidak bisa sembuh, mereka hanya bisa pulih dan harus terus menjaga kepulihan tersebut sepanjang hidupnya”.

Dialog ini terjadi ketika sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber dari Aksi NTB pada kegiatan sosialisasi bahaya narkoba di Desa Buwun Mas, Sekotong yang berlangsung pada tanggal 26 Juni 2022.    

26 Juni sendiri merupakan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional. Pada momen ini biasanya dunia akan ramai oleh aktivitas mereka  yang concern terhadap permasalahan narkotika, mulai dari tingkat daerah hingga level internasional. Beraneka kegiatan dilaksanakan, mulai dari  sosialisasi bahaya narkoba untuk mencegah munculnya pengguna-pengguna baru, hingga aktivitas turun ke jalan untuk mengkritisi regulasi yang dianggap kurang bersahabat bagi mereka yang masih berproses dalam mengatasi adiksi.



Terkait dengan hal tersebut, AKSI NTB  mendapatkan kepercayaan untuk menjadi narasumber dalam kegiatan Forjust Singgah di Desa Buwun Mas, Sekotong, Lombok Barat. Sebuah program yang dilaksanakan oleh organisasi tingkat fakultas bernama FORJUST FH Unram. Sedangkan AKSI NTB sendiri merupakan sebuah organisasi nirlaba berbasis penyalahguna yang terus berjuang untuk pulih, dimana  lembaga ini mendapatkan amanah dari Kementerian Sosial untuk menjalankan program rehabilitasi sosial (IPWL).

Selain menyampaikan informasi dasar terkait jenis, efek, dan bahaya narkoba kepada audiens yang terdiri dari remaja, masyarakat umum. Pada kesempatan tersebut terdapat juga dihadirkan sessi gambaran umum kondisi narkoba di Indonesia wa bilkhusus di Prov. NTB. 



Sebuah Testimoni

Hal yang paling menarik adalah penyampaian cerita perjalanan hidup (testimoni) dari salah seorang penyalahguna yang telah pulih dari adiksinya selama 6 (enam) tahun. Dia menceritakan pengalaman hidup yang dijalani ketika masih berada dalam ketergantungan.

Cerita dimulai dari bagaimana yang bersangkutan bisa terjerumus dalam penggunaan narkoba, hingga akhirnya masuk dalam lingkaran setan hingga 20 tahun lamanya. 

Pelik, itu yang dapat disimpulkan dari penyampaian ybs. Terkurasnya harta benda, hubungan yang menjadi tidak harmonis di keluarga, hingga masalah terganggunya jiwa. Dalam kondisi di titik nadir, ybs akhirnya berupaya untuk berdamai dengan diri, mencoba memerangi adiksi. Ikhtiar berhenti dari barang haram tersebut menguras banyak waktu, tenaga, dan fikiran. 

Dalam sessi ini ragam pertanyaan muncul dari masyarakat yang antusias menyimak kesaksian yang bersangkutan. 


End Of Story

Di akhir acara, Koordinator AKSI NTB menekankan kepada masyarakarat agar tidak mengucilkan pengguna napza karena sejatinya mereka adalah korban, jadi selama mereka tidak melakukan perbuatan kriminal (mencuri, merampok, dsb) mereka tidak patut untuk mendapat perlakuan berbeda.



“Stop Stigma dan Diskriminasi” pungkas pria berambut keriting ini. Sebagai penutup, ybs menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga kepada penyelenggara, Kepala Desa Buwun Mas, dan H. Abdul Majid selaku owner Loezawa Information Center (lokasi acara berlangsung) yang telah banyak berkontribusi untuk terselenggaranya kegiatan ini. Ybs juga menaruh harapan besar bahwa giat ini akan memiliki impact kepada masyarakat sekitar, dan akan ada kolaborasi-kolaborasi lanjutan yang dilakukan demi jayanya ibu pertiwi. 

  



EmoticonEmoticon